Interaksi Ekologis Pohon di Hutan Papua: sebuah studi di Taman Wisata Alam Gunung Meja Jadi "Bank Propagul" Alami
MANOKWARI β Dalam menyelesaikan studi di Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Papua, Dr. Wolfram Yahya Mofu, S.Hut., M.Sc. dibimbing oleh Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, S.Hut., M.Si., FLS, Prof. Dr. Jonni Marwa, S.Hut., M.Sc., dan Prof. Dr. Agustinus Murdjoko, S.Hut., M.Sc., telah menerbitkan artikel ilmiah yang mana topiknya adalah Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Meja di Manokwari, Papua Barat, menyimpan kekayaan flora tropis yang sangat tinggi sekaligus menjadi laboratorium alami penting untuk memahami dinamika regenerasi hutan hujan Papua. Hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Biodiversitas (Juli 2026) mengungkapkan bahwa TWA Gunung Meja berfungsi sebagai "bank propagul" (propagule bank) alami yang menjaga keberlanjutan dan kekayaan spesies pohon di kawasan konservasi perkotaan tersebut.
Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Program Doktor Ilmu Lingkungan dan Fakultas Kehutanan Universitas Papua (UNIPA) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, yakni Wolfram Yahya Mofu, Jonni Marwa, Agustinus Murdjoko, dan Charlie Danny Heatubun.
1. Menemukan 198 Spesies Pohon di Hutan Perkotaan
Studi yang mengamati 50 plot sampel ini mencatat sebanyak 198 spesies pohon yang tergolong dalam 133 genus dan 52 famili. Para peneliti mengelompokkan pohon menjadi dua strata fase kehidupan:
| Fase Kehidupan | Kriteria Ukuran | Jumlah Spesies | Jumlah Individu | Pohon Kecil | Diameter < 10 cm | 167 spesies | 3.417 individu
| Pohon Besar | Diameter β₯ 10 cm | 130 spesies | 989 individu
Tingginya kekayaan spesies pada fase pohon kecil menunjukkan melimpahnya potensi regenerasi hutan (anak pohon/semai) yang tersimpan di lantai hutan TWA Gunung Meja.
2. Dinamika Seleksi Alam: Dari Bawah yang Beragam ke Atas yang Seragam
Penelitian ini membedah proses ekologi yang terjadi antara lapisan bawah (understory) dan lapisan tajuk (canopy):
- Keragaman Tinggi di Bawah: Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H') pada kelompok pohon kecil jauh lebih tinggi (median ~2,4) dibandingkan pohon besar (median ~2,15).
- Keseragaman di Tajuk: Sebaliknya, Indeks Pemerataan Pielou (J') pada pohon besar jauh lebih tinggi (median ~0,84) dibandingkan pohon kecil (~0,67).
- Pengelompokan Hierarki (Dendrogram): Analisis klaster menunjukkan tingkat ketidaksamaan (dissimilarity) yang sangat tinggi pada kelompok pohon kecil (jarak 30,0β60,0), tetapi sangat homogen pada kelompok pohon besar (jarak < 18,0).
Fenomena ini membuktikan adanya proses penyaringan ekologis (ecological filtering) yang sangat ketat. Persaingan ruang, cahaya, dan air, serta interaksi umpan balik negatif konspesifik (conspecific negative feedback) mengeliminasi sebagian besar anak pohon sehingga hanya spesies tertentu yang berhasil lolos mencapai fase pohon dewasa di tajuk hutan.
3. Pola Asosiasi Konspesifik dan Spesies Dominan
Analisis asosiasi konspesifik (hubungan antar-fase dalam spesies yang sama) menunjukkan pola regenerasi yang unik:
- 35,35% spesies hanya ditemukan dalam fase pohon kecil tanpa adanya pohon induk besar di sekitarnya. Hal ini mengindikasikan kuatnya peran mekanisme pemencaran biji (seperti oleh burung atau mamalia) dari luar kawasan TWA Gunung Meja.
- 16,16% spesies hanya ditemukan dalam fase pohon besar tanpa kehadiran anak pohon.
- 48,49% spesies memiliki perwakilan baik di fase pohon kecil maupun pohon besar.
Pohon Pometia pinnata (Matoa) menjadi spesies yang paling sukses melakukan regenerasi berkelanjutan, di mana posisinya dominan baik pada fase pohon kecil maupun pohon besar. Sementara itu, spesies kayu komersial bernilai tinggi seperti Intsia bijuga (Merbau) tetap bertahan di lapisan tajuk sebagai warisan ekologis (legacy species).
4. Rekomendasi Pengelolaan Konservasi
Para peneliti menyimpulkan bahwa pengelolaan TWA Gunung Meja tidak hanya berfokus pada perlindungan pohon-pohon besar yang ada di tajuk, tetapi juga wajib menjaga heterogenitas lingkungan mikro di lantai hutan. Dengan menjaga iklim mikro dan meminimalkan celah tajuk yang tidak alami, TWA Gunung Meja dapat mempertahankan fungsinya sebagai penyimpan cadangan biji alami (propagule bank) serta menjamin daya lentur (resilience) ekosistem hutan Papua dari ancaman perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Link untuk artikel:
Mofu, Wolfram Yahya, Jonni Marwa, Agustinus Murdjoko, and Charlie Danny Heatubun. 2026. βSpecies Richness and Conspecific Associations of Trees in Gunung Meja Nature Tourism Park , West Papua , Indonesia.β Biodiversitas 27(7):1β10. doi: 10.13057/biodiv/d270720.
Link : https://smujo.id/biodiv/article/view/25478