Karbon Hutan Tropis: Riset Global Ungkap Dampak Iklim yang Tersembunyi
Sebuah studi berskala internasional yang melibatkan ratusan peneliti dari berbagai jaringan riset global termasuk di antaranya adalah Dosen Program Pascasarjana Universitas Papua yakni Prof. Dr. Agustinus Murdjoko, S.Hut., MSc., berhasil mengungkap alasan mengapa dampak iklim terhadap cadangan karbon hutan tropis selama ini sulit diprediksi. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports ini menunjukkan bahwa iklim sejatinya membentuk stok karbon hutan secara signifikan, namun jalurnya tersembunyi di balik perubahan struktur pohon yang saling menyeimbangkan.
Kolaborasi global ini dipimpin oleh Pauline Depoortere bersama tim ilmuwan lintas benua dan didukung oleh jaringan inventarisasi hutan tropis dunia seperti ForestPlots.net, GFBI, AfriTRON, dan RAINFOR. Para peneliti menganalisis data ekologi dari 2.023 plot hutan tua yang tersebar di lima wilayah utama: Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Asia, dan Oceania.
Mekanisme Tersembunyi di Balik Biomassa Hutan
Hutan tropis tua memainkan peran vital dalam menyerap dan menyimpan karbon global pada biomassa di atas tanah (aboveground biomass / AGB). Selama ini, hubungan antara iklim dan jumlah biomassa hutan sering kali membingungkan karena hasilnya berbeda-beda di setiap wilayah.
Melalui pendekatan structure-explicit pathway modeling, tim peneliti berhasil membedah bagaimana variabel iklim memengaruhi empat komponen utama struktur hutan:
- Luas bidang dasar (basal area)
- Diameter rata-rata pohon (quadratic mean diameter)
- Kepadatan batang (stem density)
- Kerapatan kayu (wood density)
Hasil analisis mengungkap bahwa respons komponen-komponen struktur hutan terhadap iklim sering kali berlawanan arah. Akibatnya, efek total iklim terhadap akumulasi biomassa secara keseluruhan saling menghilangkan (cancel out) pada analisis konvensional.
Respons Berbeda di Setiap Benua
Penelitian ini juga mendapati bahwa tidak ada satu pola umum tunggal yang berlaku bagi seluruh hutan tropis di dunia. Dari empat atribut struktur yang diteliti, hanya kerapatan kayu (wood density) yang menunjukkan respons konsisten di tingkat global: kerapatan kayu menurun seiring meningkatnya curah hujan tahunan, namun meningkat pada wilayah dengan iklim musiman yang kuat.
Sementara itu, atribut struktur lainnya menunjukkan respons unik berdasarkan wilayah geografisnya:
- Amerika Tengah: Curah hujan yang tinggi menurunkan kepadatan batang, namun mendorong tumbuhnya pohon-pohon dengan diameter lebih besar.
- Amerika Selatan: Suhu udara yang lebih hangat menjadi pendorong utama yang menurunkan kepadatan batang, tetapi meningkatkan diameter pohon dan kerapatan kayu.
- Afrika: Suhu panas dan curah hujan musiman yang tinggi cenderung mengurangi luas bidang dasar.
- Asia: Curah hujan tahunan yang tinggi berasosiasi dengan peningkatan luas bidang dasar, tetapi menurunkan kerapatan kayu.
Perbedaan antarwilayah ini mencerminkan sejarah biogeografi, proses evolusi, serta variasi komposisi spesies yang khas di masing-masing benua.
Implikasi Bagi Masa Depan Hutan Dunia
Temuan ini menjadi pijakan penting bagi para ilmuwan dan pembuat kebijakan iklim. Pemodelan stok karbon di masa depan harus memperhitungkan perubahan struktur hutan secara rinci, bukan sekadar melihat rata-rata dampak iklim secara kasar. Dengan memahami respons spesifik tiap wilayah, perkiraan potensi simpanan karbon hutan tropis di tengah ancaman perubahan iklim global dapat dilakukan secara jauh lebih akurat.
Link untuk artikel: https://doi.org/10.1038/s41598-026-61888-7
Depoortere, P., Bauman, D., Fayolle, A. et al. Region-specific forest structure pathways reveal climate effects on old-growth tropical forest biomass. Sci Rep 16, 27381 (2026).